impian

impian

Rabu, 11 April 2012

Saya adalah Ibu Rumah Tangga



Saya Adalah Ibu rumah Tangga
Oleh: Lizsa Anggraeny


Untuk rencana hari ini, dalam buku agenda tertulis: Membuat purchase order, meeting supplier, incoming inspection… Dan beberapa jadwal lainnya. Bukan, saya bukan karyawati kantoran. Saya hanya seorang isteri dengan profesi ibu rumah tangga.

Rencana yang saya buat di atas pun sesungguhnya adalah agenda biasa berupa jadwal harian rumah tangga. Saya ibaratkan membuat daftar belanja kebutuhan sehari-hari dengan membuat purchase order; acara pergi ke pasar, supermarket, ataupun toserba saya istilahkan dengan meeting supplier; sedangkan incoming inspection adalah istilah untuk rapi-rapi rumah. Semua saya lakukan dengan tujuan agar lebih semangat dalam menjalani pekerjaan rumah.

Ibu rumah tangga adalah profesi yang saya geluti semenjak berhenti kerja dari sebuah perusahaan. Saya menyebutnya profesi karena memang pekerjaan rumah tangga membutuhkan profesionalisme berupa keahlian, pengetahuan dan keterampilan sama dengan pekerjaan kantor lainnya. Jika di perusahaan saya hanya kebagian tugas mengurusi satu bagian yaitu general affair saja, ternyata di rumah tugas saya tidak hanya mentok di satu bagian. Di sini saya wajib berperan multiguna sebagai direktur, manajer, sekretaris sekaligus pekerja, yang tidak hanya bisa memahami, tapi juga harus bisa menguasai semua bagian. Yang semuannya nanti harus dilaporkan pada presiden direktur yaitu suami juga pada bagian komisaris tertinggi yaitu Allah swt.

Pertama kali berhenti bekerja dan menjalani perkerjaan sebagai ibu rumah tangga, sepertinya ada perasaan tidak betah dan malu untuk mengakui. Mengingat selama ini dalam benak saya telah terpatri pikiran bahwa menjadi wanita karir lebih baik dibandingkan ibu rumah tangga. Ternyata, setelah benar-benar terjun fulltime menjalani pekerjaan rumah tangga, pikiran saya berubah total. Pekerjaan yang semula saya anggap remeh ini ternyata tidak sesederhana seperti dalam bayangan saat menjalaninya.

Ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang tidak hanya membutuhkan perangkat kasar berupa tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya yang diperlukan untuk mencuci, menyetrika, bebenah rumah. Tetapi dibutuhkan pula perangkat lunak berupa kelihaian sang otak dalam mengatur keuangan, mengolah makanan, meredam emosi yang ada serta beberapa perangkat lunak lainnya yang berhubungan dengan naluri keibuan berupa kelembutan, kesabaran untuk mengayomi rumah tangga.

Terkadang ibu rumah tangga pun harus siap menjadi bodyguard yang dapat mendeteksi keadaan rumah tangga agar selalu adem, ayem, tentrem. Ditambah dengan waktu kerja yang harus siap sedia selama 24 jam, seorang ibu rumah tangga memerlukan ketahanan jiwa dan fisik yang kuat.

Jika dalam perusahaan saya bisa mengambil cuti untuk beristirahat, tetapi tidak begitu dalam profesi ibu rumah tangga. Profesi ini merupakan komitmen saya. Tidak bisa begitu saja ditinggalkan dengan alasan cuti, mengundurkan diri atau meminta pensiun dini karena cape ataupun tidak cocok dengan perkerjaan. Di sinilah karir saya ditempa. Saya adalah fasilator bagi berjalannya managemen rumah tangga. Semua harus terus dijalani dengan ikhlas dan ridha untuk mendapat `gaji` berupa palaha tak terhingga dari Allah swt. Juga `bonus` berupa surga jika patuh pada suami. Insya Allah.

Menjadi ibu rumah tangga pun ternyata tidak menghambat potensi saya. Justru dengan memilih profesi ini, saya memiliki waktu yang lebih fleksible dalam mengembangakan potensi untuk meraih prestasi. Di antaranya saya dapat lulus Nihongo Nouryoku Shiken (Tes Kemampuan Bahasa Jepang) level satu setelah berusaha keras belajar di antara waktu luang yang ada, juga dapat mengembangkan hobi menulis. Siapa yang menyangka jika setelah menjadi ibu rumah tangga, saya justru diamanahi menjadi ketua di salah satu forum kepenulisan.

Saya bercermin dari ummahatul mukminin di antaranya Siti Khadijah ra., seorang ibu rumah tangga yang dapat berperan besar terhadap kesuksesan sang suami Rasulullah saw. Meski tak menonjolkan diri, tetapi daya dukungannya begitu kuat. Begitupula dengan puteri tercinta Rasulullah saw yaitu Fatimah ra., yang tangannya selalu membekas karena sering menumbuk, pundaknya pun membekas karena sering menjinjing air dengan kendi, bajunya selalu berdebu karena sering menyapu.
Hingga pernah Rasulullah saw berkata pada Fatimah ra. untuk menghiburnya,

“Ya Fathimah perempuan mana yang berkeringat ketika ia menggiling gandum untuk suaminya maka Allah swt. menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh buah parit. Perempuan mana yang meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisir rambut mereka dan mencuci pakaian mereka maka Allah swt. akan mencatatkan baginya ganjaran pahala orang yang memberi makan kepada seribu orang yang lapar dan memberi pakaian kepada seribu orang yang bertelanjang. Perempuan mana yang menghamparkan tempat untuk berbaring atau menata rumah untuk suaminya dengan baik hati maka berserulah untuknya penyeru dari langit (malaikat), Teruskanlah amalmu maka Allah swt telah mengampunimu akan sesuatu yang telah lalu dari dosamu dan sesuatu yang akan datang.”

Betapa saya menemukan keagungan dalam pekerjaan ini. Sebuah profesi yang tidak bisa digantikan oleh siapapun selain saya sendiri – ibu rumah tangga. Tidak salah jika kini, saya begitu bangga dengan profesi ini. Jika ada yang bertanya apa pekerjaan anda? Tanpa ragu lagi akan keluar jawaban,

“Saya adalah ibu rumah tangga.”

Kamis, 01 Maret 2012

BEKERJA dan PEKERJA


“Setelah Lulus Kuliah, pekerjaan apa yang bisa aku kerjakan di instansi itu?”

Sebuah pertanyaan yang malam itu diungkapkan oleh salah seorang mahasiswi yang berkunjung ke rumah. Dia datang ke rumah bertujuan untuk silaturrahim, karena sudah lama tidak bertemu, kangen katanya. J

Beberapa biji kacang kapri dalam toples dan kawan-kawannya menemani perbincangan kami. Dia adalah seorang mahasiswi yang baru masuk semester tiga. Sedang menempuh pendidikan di jurusan yang menjadi pilihannya. Kecintaannya pada dunia eksak membawanya pada jurusan MIPA yang telah dia pilih.

Aku, sebagai seorang kakak yang mengenalnya dengan dekat, hanya bisa berdoa dan memberi nasehat yang semoga berguna buatnya. Itulah indahnya sebuah ukhuwah, indahnya persaudaraan. Bisa berbagi pengalaman, curhat (curahan hati-red), share(berbagi) dan saling menasehati dalam perjuangan.

Teringat sebuah mutiara Allah tentang sebuah ukhuwah dalam firman-Nya :

“Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezkinya itu) tidak mau memberikan rezki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah[832]?.” (An Nahl : 71)

[832]. Ayat ini salah satu dasar ukhuwah dan Persamaaan dalam Islam.

Allah memberikan gambaran sebuah korelasi antara ukhuwah dan rezki dengan sangat indahnya. Dia, mengingatkan kita betapa pentingnya menjaga sebuah hubungan silaturrahim.

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya[263] Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain[264], dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (An Nisa’ : 1)

[263]. Maksud dari padanya menurut jumhur mufassirin ialah dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam a.s. berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Di samping itu ada pula yang menafsirkan dari padanya ialah dari unsur yang serupa yakni tanah yang dari padanya Adam a.s. diciptakan.

[264]. Menurut kebiasaan orang Arab, apabila mereka menanyakan sesuatu atau memintanya kepada orang lain mereka mengucapkan nama Allah seperti :As aluka billah artinya saya bertanya atau meminta kepadamu dengan nama Allah.

Memang dengan bersilaturrahim, kita akan bisa merasakan perbedaan dalam hidup. Beda ketika lebih terasanya kedekatan hati, kelembutan cinta sudara dan semangat hidup serta perjuangan yang semakin membara. Subhanallah.

Dalam detik perbincangan saya dan adik beberapa waktu yang lalu, terkuak sebuah permasalahan yang dhadapi banyak oleh mahasiswa, setelah mereka lulus kuliah. Banyak yang bertanya, “kemana saya akan melamar kerja?”

“Perusahaan mana yang akan saya pilih?”

Itu semua bukanlah pertanyaan yang salah. Sudah wajar dan umum kita dengar. Kita memang harus berikhtiar dalam menjemput maisyah-rejeki- yang telah Allah sediakan buat kita. Namun, kita juga harus mempertimbangkan dan memikirkan dengan cermat ketika kita akan membuat sebuah pilhan atau keputusan dalam mencari maisyah. Halal dan barokah tentunya yang kita inginkan.

Ada sebuah pola pikir yang sangat penting untuk perlu ditanamkan di dalam benak kita semua, “dalam hidup, apa kontribusi kita buat ummat? Buat kampung halaman? Buat orang-orang yang kita sayangi, dan buat Islam?”

Sebuah pertanyaan yang akan membuat kita menjadi seseorang yang kreatif untuk menciptakan sesuatu yang baru, berkarya, menebar kemanfaatan dalam diri kita. Mendampingi pertanyaan “apa yang bisa saya berikan pada orang lain?” disamping pertanyaan, “apa yang bisa kita kerjakan?” untuk menjemput maisyah itu sangat lah penting.

Allah juga sellau mengingtakan kita untuk selalu berusaha dan bekerja. Sebagaimana kita diberi rezki kesehatan, di sana juga kita harus bekerja dengan niat ibadah meski dalam kepayahan yang amat sangat. Di sini lah titik kita melawan sebuah kemalasan dalam perjuangan.

bekerja keras lagi kepayahan,(Al Ghaasyiah : 3)

Sulit memang, memunculkan sebuah kreatifitas ketimbang menyatukan diri dengan sebuah lembaga atau perusahaan. Namun lebih sulit lagi jika suatu saat usia sudah senja, masa pensiun datang, tidak mungkin diri akan selamanya ada di sebuah perusahaan atau lembaga. Harus ada sebuah pegangan kreatifitas supaya kita bisa menebar kemanfaatan lebih besar. Meski sulit, pasti BISA jika kita mau berusaha. Setiap usaha kita tidak akan ada yang sia-sia insyaAllah dan tiap-tiap usaha semuanya akan kembali kepada diri kita. Tiap-tiap usaha manusia kemanfaatannya kembali kepada dirinya sendiri

Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (Al An kabut : 6)

Inilah, sedikit oleh-oleh dari sebuah perbincangan anak-anak kecil yang sedang belajar. Meniti hidup, menata hidup, meniti impian, menata sebuha impian. Semoga kita bisa menebar kemanfaatan di manapun berada. Semoga bisa selalu istiqomah dalam kebaikan. Amiin Ya Rabbal’alamiin

Selamat berjuang menggapai jalan terindah

Dalam usaha menebar kemanfaatan

Hidup hanya sekali, semoga bisa memberi arti

Menggapai syurga Illahi.

Dunia tidak akan pernah habis kita cari

Namun akhirat begitu abadi

Dunia tampak nyata dengan segala keindahannya

Namun akhirat lebih abadi dengan syurga janjiNya

Kuingin persembahkan yang terbaik untukmu

Dien penyelamatku, Kampung halamanku, negeri tercintaku, cinta hatiku

Meski aku masih jauh darimu, jauh dari harapanmu

Aku yakin pasti bisa

Barakallah…

Minggu, 09 Oktober 2011

Merindu CintaNya di Bumi Penghambaan

*posting simpanan note, semoga bermanfaat*

Puasa hari ini terasa berbeda. Setiap hari memang ada rasa yang berbeda, tapi entah hari ini terasa berbeda.Rumah sakit memang lebih sepi, mungkin karena pasien banyak yang pulang kampung kali ya… ^^

Tapi bukan itu yang menyebabkab berbeda, ada sebuah taujih istimewa tentang tamu special dari Gaza. Seorang syaikh muda asal Gaza yang berkunjung ke Jawa ini, silaturrahim bertemu saudara-saudara di Jawa ini.

Beliau dating dari Gaza di bulan Ramadhan ini, bercerita tentang banyak hal kebiasaan masyarakat Gaza.

Menghafal Al Qur’an adalah sebuah program wajib bagi setiap penduduk Gaza, mentarbiyah mereka, mendidik mereka sejak kecil. Anak-anak selalu pergi ke camp menghafal AL Qur’an setiap musim libur sekolah tiba. Mereka berbondong-bondong menuju tempat pendidikan hafidzul Qur’an. Subhanallah. Bagaimana dengan kita di Indonesia ini? Kegiatan apa yang kita agendakan jika liburan tiba? Sungguh, masih jauh ketahanan rukhiyah kita terhadap tekad diri menjadi hafiidzul Qur’an, kitab suci Allah SWT. Kalam SWT. Yang menjadi tuntunan hidup kita.

Tidak hanya itu, setiap tentara di Gaza, akan lulus menjadi pembela Gaza jika dia sudah menjadi seorang Hafidz. Apakah itu menyurutkan niat mereka menjaadi tentara?

Mungkin kalau di daerah kita, diri kita sendiri, persyaratan hafal Al Qur’an untuk sebuah amanah tertentu akan membuat kita langsung melangkah mundur, mengurungkan niat terhadap amanah tersebut dlam sekejab. Namun tidak bagi penduduk Gaza. Mereka malah berlomba. Jihad untuk Gaza, menjadi tentara, syahid di medan pertemperuan melawan zionis adalah impian tertinggi mereka.

Sebagai contoh, ada seorang ibu muda usia kurang lebih 33 tahun, memiliki 9 orang anak, beberapa kali melahirkan, bayi kembar dianugerahkan Allah kepadaNya. Sejak kecil, semua anak-anaknya sudah dididik menghafal Al Qur’an dan ditanamkan dalam hati mereka, bahwa bumi Gaza, nilainya sebanding dengan nyawa mereka. Sehingga ketika ada pergolakan di Gaza dengan kaum Zionis, kesembilan anak tersebut terjun ke medan peperangan dan semuanya syahid di sana.

Tidak tampak kesedihan di hati ibu para Mujahid itu. Sang ibu Muda setelah kehilangan anak-anaknya dalam pertempuran, pergi ke dokter, dia bertanya, “dalam kurun waktu berapa lama lagi saya boleh melahirkan anak?”

“Selama sepuluh tahun ke depan, ibu boleh melahirkan anak lagi.” Jawab dokter tersebut.

Kemudian Sang Ibu memutuskan, saya akan ikhtiar untuk melahirkan sepuluh anak lagi untuk kontribusi kami pada Islam, pada Gaza Bumi Allah ini. AllahuAkbar.

Begitu kuatnya keteguhan hati Ibu tersebut untuk jihadnya, untuk perjuangannya.

Sungguh malu lah kita, di negeri zamrud khatulistiwa ini, dalam ketenangan dan limpahan rahmat Allah Yang Maha Luas, kita masih sering mengeluh, terdiam melihat negeri kita porak-poranda oleh system yang menindas rakyat, menindas kebaikan dan kebenaran. Kita masih saja bersantai, tidur bangun kesiangan tidak merasa bersalah, ibadah juga pas-pasan, ala kadarnya. Astaghfirullahal’adziiim.

Semoga kita segera bangun dan membangun kesadaran kita untuk berjuang demi Negara kita, tanah kelahiran kita ini. Minimal melakukan yang terbaik buat keluarga kita saja, memberikan pendidikan dan kasih saying yang besar kepada keluarga kita, menjadikannya keluarga pejuang yang siap bertempur di kehidupan, keluarga, masyarakat, dan mempersiapkan anak-anak kita jika harus berjuang untuk Negara. Semoga bias Ya Allah.

Allah memberi ujian selalu berbeda pada setiap hamba

Allah tahu yang terbaik untuk setiapummatNya

Kewajiban seorang hamba hanyalah mengabdi

Melakukan apa yang diperintahkanNya

Tidak ada kata terlambat dalam setiap usaha

Di negeri yang bobrok pun, harapan itu masih ada

Rahmat Allah tidak pernah putus jika ada usaha

Bismillah…

Bisaaaaaaaaaaa……

Ada sebuah kisah lagi yang membawa hikmah dari syaikh Gaza tersebut. Di sebuah rumah di Gaza, ada sebuah keluarga punya dua oang anak laki-laki. Anak pertama telah mendapat ijin dari ibunya untuk berjihad membela Gaza, dan dia Syahid. Kemudian dia dimakamkan di salah satu sudut rumahnya tersebut. Beberapa waktu kemudian, sang adik juga pergi berjihad, pulang tinggal nama dan dia syahid di medan pertempuran. Ketika keluarganya akan memakamkannya di makam sebelah kakaknya, tanpa sengaja makam kakanya tersingkap, dan jasad kakaknya masih utuh, berbau wangi menyelimuti seluruh ruangan ruanganNya.

Subahnallah, semangat jihad warga Gaza sangat besar, mereka merindukan syahid, melihat teman, saudara mereka syahid dengan naungan Rahmat dari Allah yang seperti itu.

Dikisahkan oleh salah seorang relawan dari Indonesia, seorang dokter bedah yang pernah ke Gaza, beliau melakukan operasi bedah di sana, ada beberapa fakta yang beliau temukan dalam beberapa kasus operasi beliau. Pada sebuah operasi bedah oleh doter tersebut, saat beliau melakukan pembedahan, daging orang2 Gaza itu bersih sekali, darah juga tidak banyak yang mengalir sehingga tidak perlu transfuse. Bahkan dalam waktu lima menit saja operasi sudah bias selesai. Berbeda dengan operasi bedah yang beliau alami di Indonesia, khususnya di tempat prakteknya. Ketika ada operasi bedah, tampak daging orang Indonesia mengeluarkan darah banyak sekali, sehingga harus dilakukan transfuse darah. Satu hal lagi yang perlu kita tahu, di gaza, tidak ada orang yang perutnya buncit lhoooo…. Semuanya gagah, cantik dan langsing. Bahkan setelah melahirkan beberapa kali sekalipun.. J

Ini adalah hal yang harus kita contoh berkaitan dengan ketahanandan penjagaan fisik kita. Yang tak kalah pentingnya, terhadap saudaranya, orang Gaza adalah orang-orang yang Romantis. Dokter bedah tersebut mengisahkan, di setiap rumah sakit di sana, di depannya selalu ada orang yang berjualan bunga, dan itu laris sekali dibeli pengunjung untuk pasien yang di jenguknya…

Subhanallah….

Begitulah Allah menjaga hambaNya yang khusu’ ibadah

Sungguh besar karunia Allah…

Setiap usaha manusia, dibalas Allah dengan tanpa syarat…

Ya Allah… ijinkan kami menjadi golongan ummat terbaikMu

Ya Allah… ijinkanlah kami menjadi hamba yang merinduMu…

Ijinkanlah kami Ya Allah…

Allahummashalli’alaa Muhammad, wa’alaa Ali Muhammad…

* Aku bermimpi, menjadi orang yang berarti, untukMu*

Kamis, 25 Agustus 2011

Ramadhan Hendak Pergi...

Bismillah.. As w w

Aku lihat Ramadhan dari kejauhan… lalu kusapa “Hendak ke mana?”

Dengan lembut ia berkata : “Aku harus pergi, mungkin cukup lama… Tolong sampaikan pesanku untuk orang yang bernama “MUKMIN”. Syawal akan tiba sebentar lagi, ajaklah SABAR untuk menemani hari-hari dukanya… Peluklah ISTIQOMAH saat dia kelalahan dalam perjalanan TAQWA… Bersandarlah pada TAWADHU saat kesombongan menyerang… Mintalah nasihat QURAN dan SUNAH di setiap masalah yang dihadapi… Sampaikan pula salam dan terimakasih untuknya karena telah menyambutku dengan sukacita. Kelak akan kusambut Dia… di SYURGA dari pintu AR-RAYAN “Selamat meraih detik-detik terakhir Ramadhan… Selamat menggapai LailatulQadr… Semoga kita terpilih olehNya….. Amiin, Wass” ^^ :-( :)

Ramadhan masih tersenyum kepada kita

Tinggal tiga hari lagi…

Dia menemani hari-hari kita yang istimewa

Dia berkata, “aku ingin menemanimu terus… tapi aku harus pergi…”


Ya Allah,

Kami sedang berada di penghujung bulan muliaMu ini,

Terimakasih, karena Engkau telah mengijinkan kami bertemu bulan suciMu ini,


Ya Allah,

Maafkanlah kami, yang belum bisa memanfaatkan setiap waktu kami dengan baik

Saat Kau membentangkan pintu syurga, kami masih belum tersadar

Betapa pintu ini tak selamanya Kau beri

Seandainya Kau mengijinkan kami mengulang lagi Ya Allah,

Jangan Kau biarkan Ramadhan pergi,


Ya Rabb,

Betapa meruginya kami di bulan suci ini

Yang belum bisa memaksimalkan ibadah terbaik kami

Shalat kami yang hanya berjalan menunaikan kewajiban

Ibadah sunnah kami yang tak jauh beda dari hari-hari biasanya

Tilawah kami yang hanya sekedar mengejar target

Hafalan kami yang hanya sekedar menyetor target

Infaq kami yang masih berbalut pamrih

Atau bahkan banyak waktu yang terlalaikan sia-sia…

Astaghfirullahal’adzziim Ya Rabb….

Betapa hinanya kami ini Ya Rabbi….


Ya Allah Yang Maha Kuasa,

Maafkan lah kami,

Yang dengan kedok bekerja adalah ibadah, kami masih mengejar dunia

Kami masih menumpuk harta, memuaskan ego diri

Ampunilah kami Ya Rabbi,

Saat kami harus mentarbiyah diri di Ramadhan yang mulia ini,

Kami hanya melakukan kebiasaan rutin, adat manusia di setiap Ramadhan

Puasa pagi hingga sore, rutin buka dan sahur dengan sibuk memilih menu

Sibuk mencari tempat I’tikaf tapi tidak kami maksimalkan,

Tidak ada bedanya peningkatan diri dengan Ramadhan2 sebelumnya

Astaghfirullahal’adziim….


Ya Allah Yang Maha Pengampun,

Kami tidak bisa membayangkan, saat Kau tunjukkan Raport kami di Yaumul Hisab nanti,

Kami takut, akan banyak nilai merah di sana,

Kami takut, jika dosa-dosa kami menumpuk di raport kami,

Kami takut, jika ibadah kami masih bernilai riya’

Kami takut, dengan dosa-dosa yang terlewat

Kami takut, dengan setiap kelalaian kami

Ya Allah, ampuni lah kami…

Ijinkanlah kami memperbaki diri…


Ya Rabb,

Dengan segala ketundukan diri dan hati kami,

Ijinkanlah kami memperbaiki diri di sisa Ramadhan ini,

Ijinkanlah kami bertemu dengan Ramadhan yang akan datang

Untuk memperbaiki ibadah kami,

Untuk menjadi ummat yang Engkau Ridhoi meraih SYURGA-Mu nanti


Ya Allah,

Masukkan lah kami dalam golongan ummatMu yang sholeh,

Matikan lah kami dalam khusnul khotimah,

Jika Kau berikan adzab kepada ummat manusia,

Ijinkan aku termasuk orang yang Kau lindungi,

Ya Allah, ampunilah segala khilaf dan dosaku…

Mohon ijin masa dariMu, untuk perbaikan diri ini…

Seandainya seluruh bulan ini adalah Ramadhan Ya Allah…

Dan Kau beri aku kesempatan bersamanya…

Memperbaiki semuanya…


Ramadhan Mubarak,

Semoga aku termasuk orang yang terpilih olehNya…

Semoga bisa bertemu denganmu lagi…

Amiiin Ya Rabbal’alamiin…

Astaghfirullahal’adziim….


“Seperti embun di pagi hari

Bagai oase di gurun pasir

Laksana cahaya dalam gulita

Bak pohon rindang di padang gersang


Limpahan rahmat tanpa batas

Ampunan dosa tak terhingga

Pahala berlipat tiada tara

Bukti cinta dari Sang Maha Kuasa”